KURANGNYA KEMAMPUAN LITERASI ANAK DI USIA SEKOLAH DASAR
Kemampuan setiap siswa berbeda-berbeda dalam dunia pendidikan, ada yang lebih dalam kemampuan orasi dan ada yang lebih dalam kemampuan literasi. Orasi adalah kemampuan untuk menyimak dan berbicara, sedangkan literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan menyimak (orasi) dan kemampuan membaca (literasi) merupakan dua kemampuan reseptif. Sedangkan kemampuan berbicara (orasi) dan kemampuan menulis (literasi) merupakan dua kemampuan yang termasuk kedalam kemampuan berbahasa ekspresif (Novi Resmini, 2013: 1). Dengan demikian, seorang guru perlu strategi pembelajaran yang agar setiap potensi dan kemampuan siswa dapat berkembang dengan baik.
Tujuan untuk mengembangkan kemampuan dan potensi siswa masih terdapat beberapa hambatan seperti kurangnya minat baca siswa, kurangnya perhatian siswa saat guru menerangkan dan rasa malu untuk menyampaikan pendapat yang mereka miliki. Berdasarkan kajian terhadap keterampilan literasi anak-anak di seluruh dunia yang dilaksanakan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) diperoleh data bahwa siswa Indonesia berada pada tingkat terendah di kawasan Asia (Muhammad Kharizmi, 2019: 4). Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat minat baca siswa di Indonesia masih renda dan perlu penanganan.
Kurangnya minat baca siswa terjadi karena beberapa faktor seperti lamanya waktu bermain yang menyebabkan anak-anak jadi lupa untuk belajar dan menonton televisi dengan tayangan-tayangan yang membuat anak betah menonton televisi dalam waktu yang lama sehingga anak-anak lebih memilih untuk menonton televisi dari pada membaca buku pelajaran mereka. Pengaruh buruk televisi secara umum ada tiga, yaitu: (1) mempengaruhi kesehatan fisik, (2) mempengaruhi kesehatan psikis, (3) mempengaruhi kesehatan sosial (Amella Rahmi, 2013: 11). Jadi menonton televisi dapat berdampak buruk bagi anak jika waktu menonton tidak dikontrol orang tua dengan baik.
Bagi anak yang mengalami kurangnya minat baca, orang tua dapat memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan anak seperti bermain dan menonton televisi. Bagi guru, dapat melakukan dengan cara membuat strategi pembelajaran yang dapat menarik minat baca siswa. Kebiasaan terhadap aktivitas baca tulis ini tidak terlepas dari peran orang tua (Muhammad Kharizmi, 2019: 5). Jadi peran orang tua sangat penting untuk meningkatkan minat baca anak dengan cara mengontrol setiap aktivitas anak yang berlebihan dan selalu mengingatkan anak untuk lebih rajin membaca.
Keimpulannya orasi adalah kemampuan menyimak dan berbicara, sedangkan literasi adalah kemampuam membaca dan menulis. Hambatan untuk mengambangkan kemampuan dan potensi siswa adalah kurangnya minat baca, kurang memperhatikan guru saat dalam pembelajaran dan rasa malu untuk menyampaikan pendapat. Kurangya minat baca siswa disebabkan oleh beberapa faktor seperti lamanya waktu bermain dan menonton televisi yang berlebihan hingga lupa untuk membaca buku. Untuk dapat mengatasi kurangnya minat baca anak, orang tua dapat memberikan perhatian lebih terhadap waktu bermain dan menonton televisi bagi anak-anak. Guru juga dapat membuat strategi pembelajaran yanh dapat meningkatkan minat baca anak.
DAFTAR PUSTAKA
Kharizmi, M. (2019). Kesulitan siswa sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan literasi. Jurnal Pendidikan Almuslim, 7(2).
Rahmi, A. (2013). Pengenalan literasi media pada anak usia sekolah dasar, Sawwa: Jurnal Studi Gender, 8(2), 261-276.
Resmini, N. (2013). ORASI DAN LITERASI DALAM PENGAJARAN BAHASA.
Komentar
Posting Komentar